Raja Ampat Akan Jadi Salah Satu Surga Anggrek di Indonesia



16 November 2020



Waisai - Keindahan Raja Ampat yang sering dijuluki Surga kecil yang jatuh ke Bumi kian semerbak dengan mulai sering ditemukannya beranekaragam jenis anggrek di daerah terestrialnya. Tumbuhan berkelopak indah ini diperkirakan berjumlah ratusan jenis, dengan keunikan dan varian yang mengerucut pada endimisitas, jika dibandingkan dengan dataran besar Papua maupun daerah lainnya. Di Papua sendiri, diperkirakan terdapat sekitar 3.000-an jenis anggrek, menempatkannya diurutan kedua setelah Pegunungan Andes di Amerika Selatan yang diperkirakan mencapai 7.000-an jenis anggrek. Keberadaan anggrek pun diperkirakan terdapat sekitar 30.000-an jenis di seluruh dunia.





Salah satu jenis anggrek yang ditemukan di Raja Ampat - Dok. Yanuar Ishaq/FFI's IP



Raja Ampat yang terdiri atas 4 pulau besar masih menyimpan banyak misteri, khususnya keanekaragaman hayati tumbuhan anggrek yang belum tereksplorasi dan diteliti secara lebih mendalam. Pada tahun 1938, seorang entomologist berkebangsaan Inggris, Evelyn Chessman, melakukan ekspedisi di pulau Waigeo dan mengoleksi beberapa spesies anggrek yang ditemukan itu dan membawanya ke Inggris, namun tidak semua teridentifikasi.


Salah satu anggrek yang dibawa oleh Evelyn Chessman dari Raja Ampat baru diidentifikasi pada tahun 2013, oleh peneliti dari National Herbarium di London, André Schuiteman dan menjadi sebuat temuan baru yang unik di dunia botani, yang kemudian diberi nama Dendrobium azureum Schuit - azureum, yang berarti biru tua. Menurut André, dari 17.000-an anggrek epifit di dunia, hanya jenis ini yang memiliki warna biru tua.


Lebih dari tujuh dekade tidak pernah dijumpai lagi, pada tahun 2016 anggrek tersebut kembali ditemukan oleh Maurits Kafiar, seorang Naturalist - Ornithologist kawakan. Hal tersebut semakin menguatkan endemisitas anggrek ini.


Beberapa eksplorasi lokal pun dimulai sejak penemuan Dendrobium azureum Schuit. atau anggrek biru ini. Maurits, yang kini staff biodiversity programme dari Fauna & Flora International-Indonesia Programme (FFI's IP) - Raja Ampat ini menjelaskan bahwa selama aktivitas penjelajahannya di belantara Raja Ampat, khususnya pada 4 pulau besarnya, terdapat jenis anggrek dalam jumlah melimpah. Ia menemukan banyak sekali jenis anggrek yang unik dan berbeda jika dibandingkan dengan spesies anggrek lain dalam suku maupun taksa yang sama.


Menurutnya, secara umum perbedaan tersebut dikarenakan spesies anggrek yang ditemukan di Raja Ampat memiliki warna, bentuk, dan ukuran yang berbeda. Sehingga dapat diidentifikasi dan diklasifikasikan sebagai spesies yang unik dan tidak dapat disamakan dengan spesies anggrek lainnya yang terdapat di pulau besar Papua, maupun jenis serupa yang terdapat di Indonesia.


Sebagai contoh pada jenis Dendrobium, telah ratusan jenis yang ditemukan dengan klasifikasi hingga tingkat spesies dengan sejumlah perbedaan, misalnya warna pada batang maupun jumlah ruas yang berbeda. Perbedaan tersebut kemudian mengklasifikasikan jenis anggrek dalam kategori spesies baru.


“Secara umum, para peneliti anggrek biasanya fokus pada kelembapan lingkungan tempat anggrek ditemukan, hal ini dapat berbeda di Raja Ampat, wilayah kepulauan dengan 4 pulau besar sebagai inti dengan ribuan pulau kecil lain tersebar disekitarnya. Sehingga memungkinkan memiliki tingkat endemik yang tinggi” jelas Maurits Kafiar.


Dari penjelajahan dan penemuannya itu, Maurits berharap semakin banyak penelitian anggrek oleh berbagai pihak dilakukan di Raja Ampat. Melalui hobi seperti fotografi maupun kebutuhan akademis di bangku kuliah misalnya, dapat menarik minat generasi muda Raja Ampat untuk berkontribusi dalam eksplorasi dan perlindungan anggrek skala lokal oleh masyarakat Raja Ampat itu sendiri. Misalnya melalui penyebaran informasi anggrek yang ditemukan mereka melalui media sosial, seperti Facebook, Instagram, atau media sosial lainnya sehingga memancing rasa ingin tahu para peniliti anggrek, baik dalam maupun luar negeri. Serta dapat juga mengunggahnya pada sejumlah situs sosial media berskala global yang dapat membantu proses identifikasi terhadap foto anggrek milik masyarakat yang diunggah. Sehingga hambatan seperti sebaran luas wilayah Raja Ampat yang berbentuk kepulauan dapat diminimalisir dengan keterlibatan langsung masyarakat dalam konservasi anggrek di lokasinya masing-masing.


“Informasi tentang anggrek Papua masih sangat kurang. Dalam lingkup yang lebih luas, bahkan sangat jarang ada penelitian yang dilakukan di belantara hutan Papua untuk meneliti tentang keanekaragaman hayati yang dimiliki Papua yang sangat kaya, baik flora maupun faunanya. Jika terus digiatkan, nantinya Raja Ampat mendapatkan predikat baru sebagai Surga Anggrek, menurut saya sangat pantas, karena banyak anggrek disini, jumlahnya bisa ratusan jenis,” lanjut Maurits.





Dokumentasi anggrek di lapangan pada proses eksplorasi anggrek di Pulau Waigeo - Dok. Yanuar Ishaq/FFI's IP



Rekan Maurits, Botanis FFI's IP - Raja Ampat, Yanuar Ishaq Dc, menjelaskan bahwa sejumlah ekspedisi dan eksplorasi lanjutan pun mulai dilakukan FFI's IP - Raja Ampat bersama instansi pemerintah lainnya untuk mengumpulkan data dan informasi tentang anggrek di Raja Ampat. Dari ekspedisi dan eksplorasi tersebut, banyak potensi spesies anggrek endemik ditemukan.


Yanuar berharap kekayaan flora ini dapat dijaga kelestariannya, agar tidak sampai mengalami kejadian yang sama seperti pada kasus perburuan salah satu anggrek liar di Vietnam tahun 2009-2010. Anggrek dengan nama latin Paphiopedilum canhii, yang baru ditemukan pada tahun 2009, karena tingkat endemisitas dan keindahannya, diburu dan diperjualbelikan hingga nyaris punah. Hal ini sempat dituliskan dalam jurnal internasional dengan judul Field Survey of Paphiopedilum Canhii: From Discovery to Extinction.


Lanjut Yanuar, dalam ekspedisi dan eksplorasi yang telah ia lakukan di Raja Ampat, tidak hanya menemukan jenis-jenis endemik, namun juga terdapat jenis anggrek umum dan sering ditemui, contohnya seperti; Grammatophyllum scriptum, Vanda lissochiloides, Spathoglottis plicata, Dendrobium taylorii, Dendrobium platygastrium, Dendrobium capituliflorum, Dendrobium bracteosum, Calanthe triplicate, Brachypeza sp, Bulbophyllum spp., dan Neuwiedia veratrifolia. Jenis lain yang ditemui masih banyak yang belum dapat teridentifikasi dan diklasifikasikan.


Salah satu penyebab sulitnya proses identifikasi adalah bagian bunga belum berkembang dan mekar untuk diamati sebagai salah satu karakter pembeda jenis pada saat ditemukan. Sehingga menurut Yanuar, walaupun dalam marga yang sama, terdapat keunikan yang memiliki potensi untuk menjadi spesies baru.


“Berbagai upaya konservasi telah kami ambil bersama dukungan instansi pemerintah setempat, seperti patroli dan penguatan serta penyadartahuan masyarakat lokal akan pentingnya keanekaragaman hayati bagi kelangsungan hidup. Juga melalui pelaksanaan webinar bertema ‘Kerajaan Tumbuhan di Raja Ampat beberapa waktu lalu. Hal ini untuk mendorong semangat penelitian dan konservasi anggrek di Raja Ampat. Karena masih banyak yang belum teridentifikasi dan diklasifikasikan" ungkap Yanuar.


Salah satu peneliti anggrek dari Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) provinsi Papua Barat, Reza Saputra, menjelaskan mengenai penyebaran anggrek di Raja Ampat yang menurutnya memiliki perbedaan dengan anggrek secara umum. Anggrek Raja Ampat didominasi oleh jenis anggrek yang hidup dan berkembang di dataran rendah dan pesisir pulau. Walaupun terdapat kemiripan dengan jenis anggrek di dataran utama Papua, namun anggrek Raja Ampat memiliki varian yang unik dan cenderung memiliki ukuran yang lebih besar.


Dijelaskan Reza, dirinya bersama peneliti anggrek lokal memang belum memiliki data yang cukup untuk menentukan endemisitas jenis-jenis anggrek unik yang ditemukan, namun ia memperkirakan jumlah anggrek Raja Ampat dapat mencapai 200-300an jenis. Sehingga, ia pun berharap kerjasama banyak pihak, baik masyarakat lokal, peneliti, ilmuan, NGO, dan instansi pemerintah terkait untuk menjaga anggrek Raja Ampat dan melakukan proteksi dan konservasi pada spesies dan jenis prioritas anggrek yang berpotensi endemik Raja Ampat.


“Ada sekitar 128 jenis anggrek yang telah diidentifikasi di Raja Ampat. Dalam ekspedisi kami belum lama ini, dalam 5 hari saja, kami temukan sekitar 130-an anggrek hanya dari satu lokasi, belum lokasi dan wilayah lain. Potensi ini perlu dijaga dan kekayaan anggrek inilah yang menjadikan salah satu dasar penunjukan Waigeo sebagai cagar alam, karena Anggrek adalah salah satu identitas Raja Ampat,” jelas Reza Saputra.





Kontributor : Arsul Latul Rahman
Penyunting : Ana R Septiana



Dok. Yanuar Ishaq - FFI-IP